slide

Accreditation

  Under the  Law of the  Republic of Indonesia  No. 16 Year 2011 on Legal Aid, all legal  aid institution in Indonesia is required to get accreditation from the Ministry of Justice and Human  Rights  of  the  Republic  of  Indonesia. According  to ...

Read more...
slide

Vision, Mision & Motto

  Vision : 1. The realization  of equality, justice,  and legal  certainty to  the  society in  seeking for justice, particularly to the poor financially unfortunate people within the society which  is  in  conflict  with  the  law.2. The  forming  of  a ...

Read more...
slide

Mawar SaronLegal Aid Institution in brief

Mawar Saron Legal Aid Institution  is  a non-profit Organization which is  part of HOTMA SITOMPOEL FOUNDATION dedicates  itself  to  provide a pro bono legal  aid to  the  poor  and  financially  unfortunate,  and  also  abused  by  the  legal  system, ...

Read more...

PERBEDAAN TITIPAN DAN PINJAMAN

Pertanyaan :

Perkenalkan nama saya Johan , sehari-hari saya berprofesi sebagai pedagang . begini pak, saya punya pertanyaan kepada bapak. Saya ini hendak meminjam uang dari teman saya sebagai pinjaman modal untuk memperluas usaha saya, nah teman saya sudah sepakat untuk meminjamkan uang kepada saya senilai 10 juta rupiah. Ketika hendak dibuatkan perjanjian diantara kami, saya jadi ragu untuk meminjam uang kepada teman saya itu, karena di dalam perjanjiannya ditulis bahwa ini adalah uang yang dipinjam ialah uang titipan, sedangkan saya sebenarnya hendak meminjam uang kepadanya, dan setahu saya berbeda pengertian antara titipan dengan pinjaman. saya minta tolong agar dijelaskan mengenai permasalahan yang saya alami ini pak, serta sebaiknya apakah saya perlu menandatangani surat perjanjian titipan tersebut? Terima kasih banyak pak atas jawabannya.

 

 

Jawaban :

Salam pak Johan, memang secara hukum harus dibedakan antara pengertian “titipan” dengan “pinjam-meminjam”. Definisi hukum pinjam meminjam diatur di dalam pasal 1754 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (B.W) yakni,

            pinjam meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada   pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian,         dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang         sama dari macam dan keadaan yang sama pula

Sedangkan definisi penitipan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1694 BW adalah,

            Penitipan adalah terjadi, apabla seorang menerima sesuatu barang dari seorang lain,     dengan syarat bahwa ia akan menyimpannya dan mengembailkannya dalam ujud   asalnya

Permasalahan yang bisa timbul mengenai pembedaan antara kedua perbuatan hukum tersebut ialah menyangkut kepemilikannya. Dalam persoalan yang bapak sedang hadapi ini, apabila perjanjian yang anda buat bersama dengan teman anda merupakan sebuah perjanjian penitipan barang, maka kepemilikan uang tersebut tidak beralih, artinya uang senilai Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) tersebut tetap menjadi milik dari teman anda, sehingga anda tidak dapat menggunakan uang titipan tersebut tanpa izin dari teman anda.

Apalagi di dalam perjanjian penitipan ini barang yang dititipkan dapat sewaktu-waktu diminta oleh sang pemilik barang (pasal 1725 BW),

            barang yang dititipkan harus dikembalikan kepada orang yang dititipkan, seketika        apabila dimintanya, sekalipun dalam perjanjiannya telah ditetapkan suatu waktu lain untuk          pengembaliannya, kecuali apabila telah dilakukan suatu penyitaan atas barang-barang yang             berada di tangan si penerima titipan”

Oleh karena itu bila bapak belum bisa mengembalikan uang tersebut, maka bapak bisa saja dituduh dengan ancaman pidana penggelapan sesuai dengan pasal 372 KUHP.

            “barangsiapa dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama    sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang lain dan barang itu ada di dalam            tangannya bukan karena kejahatan, dihukum karena penggelapan, dengan hukuman           penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900,-“

Hal ini akan berbeda apabila perjanjian yang bapak buat dengan teman bapak merupakan sebuah perjanjian pinjam meminjam yang merupakan sebuah hutang-piutang di ranah perdata, sehingga tidak bisa ditarik ke arah pidana.  

Di dalam perjanjian pinjam meminjam ini biasanya ditentukan batas waktu pembayarannya, sehingga nantinya si pemberi pinjaman tidak boleh menagih pengembalian uangnya secara sepihak saja, karena hutang tersebut hanya dapat ditagih apabila hutang tersebut telah jatuh tempo atau telah melewati waktu yang ditentukan dalam kesepakatan. Implikasinya pun akan berbeda apabila nantinya anda tidak dapat membayar pinjaman yang anda pakai dari hasil perjanjiaan hutang piutang ini.

Apabila nantinya anda tidak dapat melunasi hutang anda setelah waktu yang diperjanjikan telah lewat, maka anda hanya dapat digugat secara perdata di Pengadilan Negeri. Dengan konsekuensi apabila anda tidak bisa melunasi hutang tersebut maka harta benda anda akan disita dan dilelang guna penggantian hutang yang anda miliki.

Namun apabila nantinya perjanjian yang dibuat merupakan sebuah perjanjian penitipan barang, maka anda dapat saja sewaktu-waktu diancam dengan pidana penjara karena dianggap melakukan Penggelapan apabila anda menggunakan uang yang dititipkan tersebut tanpa seizin dari yang menitipkan.

Oleh karena itu saran dari kami sebaiknya bapak mengupayakan agar perjanjian yang dibuat nantinya merupakan sebuah perjanjian “Pinjam meminjam” atau “hutang piutang”  agar nantinya anda tidak terjerat dengan masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Terima kasih.

 

Our Location


Lihat LBH Mawar Saron di peta yang lebih besar

Clinics Partner

The Media

http://intisari-online.com/css/public/images/logo-intisari-final.jpg

http://objectivenews.co.id/logo/Logo-Objective-News.png